Follow
Don't be left behind

Enter your email address to subscribe and receive notifications of new posts by email.

Buat Kamu yang Suka Makeup, Kamu Akan Lebih Mudah Memahami Lighting Design

teori makeup dan lighting

Teori Makeup dan Analoginya dengan Proses Lighting Design

Di balik makeup orang Korea yang terkenal flawless dan natural, ternyata ada formula dibaliknya lho! Menurut Makeup Artist (MUA) Jung Saem Mool ada tujuh teori dasar make up. Menariknya, dari tujuh teori dasar tersebut, ada dua teori yang kurang lebih esensinya mirip dengan proses mendesain lighting. Hmm menarik, bukan? Yuk, simak penjelasannya!

Teori: Thick and Thin

Teori tebal dan tipis bertujuan untuk menciptakan tampilan riasan wajah tiga dimensi. Kenapa harus 3 dimensi? Karena secara alami wajah manusia memiliki kontur tiga dimensi. Jika hasil riasan tampak flat, maka look menjadi aneh dan tidak natural.

Teori tebal dan tipis bertujuan untuk menciptakan tampilan riasan wajah tiga dimensi. Dengan cara, mengaplikasikan produk lebih banyak untuk bagian wajah yang memiliki kulit lebih tebal seperti area V-zone (pipi ke dagu) dan lebih sedikit untuk kulit yang lebih tipis (Area Star-zone: kulit di bawah mata, area hidung, dan area antara mata. Lalu apa sih kaitannya dengan lighting design?

Tampilan wajah telihat natural dengan menerapkan teori thin and thick (after). Tampilan wajah tampak tidak natural karena aplikasi produk sama rata (tidak memperhatikan bagian tebal dan tipis wajah). Youtube © JUNGSAEMMOOL.

Perbedaan ketebalan dari produk yang digunakan ini menciptakan kedalaman. Perbedaan ini yang akhirnya membuat wajah lebih bervolume, look menjadi tiga dimensi, tidak datar sehingga riasan tampak natural. Begitu juga dengan lighting, lighting yang dirancang dengan baik; tidak serta merta untuk membuat ruangan terang merata di setiap sudut. Perlu adanya perbedaan tingkat brightness (kontras) untuk menciptakan depth (kedalaman) sehingga suasana ruangan tercipta dan tidak membosankan.

Aplikasi lighting design ruangan dengan kontras yang bervariasi membuat suasana ruangan menjadi hangat dan relaks dibandingkan lighting yang terangnya merata dan ruangan tampak flat. Photo and lighting design © Lumina Group

Teori: Simple and Complex

Teori ini menjelaskan dalam makeup ada yang perlu disederhanakan dan ada yang perlu dibuat kompleks. Fitur wajah yang ingin dijadikan focal point dirias dengan kompleks dan menonjol. Misalnya, jika ingin menonjolkan riasan mata maka untuk riasan bibir lebih tidak mencolok dengan menggunakan warna nude.

Makeup dengan mata yang menjadi poin utama diseimbangkan dengan riasan bibir yang lebih tone down. Youtube © JUNGSAEMMOOL

Ketika kita ingin mendesain suatu ruangan, kita melihat terdapat banyak sekali obyek interior sebagai contoh sofa, lukisan, rak buku, dan lain-lain. Tidak semua obyek yang ada di ruangan harus menonjol semua. Sama halnya dengan lighting design, bagian yang penting (tinggi hierarkinya) disorot dengan cahaya (highlight) dan bagian yang lebih rendah hierakinya tidak terlalu ditonjolkan.

Penerapan lighting design dengan display dan tanaman sebagai focal point. Hiasan dinding memiliki hierarki lebih rendah tidak teralu menonjol tetapi tetap . Photo: Kegiatan training internal Lumina Group

Tampilan flawless dan natural karena makeup mengikuti kontur alami wajah dan membuat fitur-fitur wajah lebih menonjol. Begitu juga dengan lighting design, desain mengikuti fungsi ruangan agar ruangan beroperasi dengan optimal.

Ada artikel yang membahas lighting untuk dandan atau vanity light. Cek di sini!

Total
0
Shares
Previous Article

Kilas Balik Enlightened Bali 2025

Next Article

Bagaimana Lighting Memberikan Ketenangan di Tengah Keramaian Kota?

Related Posts
Total
0
Share