Kegiatan apa saja yang dilakukan di lighting retreat?
Enlightened Bali telah dilaksanakan dengan lancar pada tanggal 28-31 Agustus 2025. Acara ini diinisiasi oleh Light Talk dengan dukungan fasilitas dari Dua Collective dan creative agent Studio Sensar. Enlightened Bali menjadi wadah untuk menjalin hubungan yang membangun antara lighting designer, lighting manufaktur, dan supplier dalam rangka memajukan lighting industri di Indonesia.
Variasi kegiatan dalam acara ini dirancang dengan mengadaptasi pengetahuan tentang neuroplasticity. Jenis kegiatan dan urutannya direncanakan untuk mengembangkan kemampuan sel otak untuk beradaptasi dan membentuk koneksi baru. Ritme acara juga direncanakan agar seluruh peserta menikmati setiap kegiatan dan tidak merasa bosan seperti dalam rangkaian seminar pada umumnya.
Kegiatan pertama dimulai dengan pengalaman untuk tidak berasumsi dan tetap menjaga pikiran yang terbuka. Harapannya dengan berakhirnya acara ini, ada pelajaran dan pengalaman yang dapat dipetik. Acara lain melibatkan diskusi lintas disiplin dengan psikolog, ahli artificial intillegent (AI), arsitek, scientist, dan fotografer yang berguna untuk memperkaya wawasan tentang lighting dan memperluas sudut pandang.
Berikut beberapa cuplikan keseruan dari Enlightened Bali:
Day 1
Check-in dan makan malam
Setibanya di bandara internasional Ngurah Rai, peserta dipandu oleh tim panitia untuk menuju venue 1 di Rumah Luwih. Setelah proses check-in, peserta beristirahat sembari menunggu makan malam.

Acara pembukaan sekaligus makan malam dilaksanakan di restoran Gajah Putih. Acara dibuka dengan sambutan Pak Abdi Ahsan selaku inisiator, menyampaikan secara singkat bahwa acara Enlightened Bali ini mengingatkan para stake holder di industri lighting Indonesia untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kedua, pertemuan ini menjadi sarana komunikasi yang jujur dan saling berbagi sehingga kita bisa mengendalikan bersama ke mana industri lighting Indonesia akan bergerak dan berkembang.
Bukan hanya makan malam tetapi pengalaman tak terlupakan karena melibatkan seluruh sensori kita dari pendengaran, penglihatan, pengecap, perasa, dan penciuman. Pencahayaan menciptakan suasana dalam menyampaikan cerita dan suasana sehingga menikmati makanan menjadi next level.



Day 2
Siang – Gathering dan workshop
Gathering peserta dan sponsor
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebagian besar stake holder di industri lighting Indonesia berkumpul dan berbagi. Acara berlangsung dengan hangat tanpa nuansa perseteruan; bahkan kebalikannya, koneksi dan jaringan baru mulai terbentuk.

Tujuan dari gathering ini sebagai sarana berbagi cerita dan pengalaman dan terbuka antara lighting designer, produsen dan distributor.


Workshop: Creating Decorative Lighting as communication between interior dan lighting design – Endrawan Nimpuno – ENP Design Consultant dan Thiery Boon – Superset Design Studio

Dari pengalaman Thiery Boon, beliau tidak bisa serta merta mendesain lampu begitu saja, perlu penjelasan lebih lanjut dengan lighting designer untuk kustomisasi lighting. Desain merupakan solusi dari sebuah masalah.
Berdasarkan paparan Endrawan ada beberapa point yang dijelaskan bahwa pada pembuatan decorative lighting berfokus pada efek cahaya yang diciptakan. Decorative lighting menjadi brilliance layer. Kemudian dalam mendesain decorative lighting berusaha untuk memahami kustomisasi dari lampu tersebut dan menggunakannya sebagai medium untuk menyampaikan pesan yang lebih kuat. Poin selanjutnya, lighting designer perlu untuk memahami bagaimana mengontrol cahaya. Perlu adanya support consultant yang membuat desain lampu menjadi lebih seamless dan enhance. Istilah lainnya be spoke luminare. Terakhir, lighting designer perlu memanfaatkan kearifan lokal, seperti bahan pelepah pisang, bambu, dan lain-lain.



Workshop – Membuat Decorative Light
Peserta dibagi dalam kelompok berjumlah empat orang. Peserta diminta membuat decorative light dengan waktu yang terbatas 30 menit. Beberapa bahan yang dipersiapkan seperti pendant, desk light, anyaman bambu, jaring kelambu dan bahan pendukung lainnya. Berikut karya-karya peserta, hasilnya keren dan kreatif!
Malam – Exploring Human in Lighting Design
Human Centric design – Abdi Ahsan – Lumina Group
Presentasi yang disampaikan mengenai pentingnya menempatkan manusia sebagai fokus utama dalam desain. Kita diingatkan kembali pada prinsip arsitektur Vitruvius Triad (firmitas, utilitas, venustas). Desain yang memenuhi kebutuhan fisiologi dan psikologi akan mengangkat human spirit. Saat itu, baru seseorang merasakan ‘keindahan’.

Lighting for preschool. Redesigning Classroom Lighting: A Study on the Impact of Artificial Lighting on Motor and Memory Skills of Pre-Kindergarten Students oleh Azelia Pattiasina – Lumina Group dan Elizabeth Toth – Psikolog


Penelitian ini dilakukan di salah satu kelas preschool yang tidak memiliki akses daylight. Studi ini menekankan bagaimana mendesain pencahayaan yang ideal untuk menunjang aktivitas tumbuh kembang anak di Pre-School. Penelitian bekerja sama dengan psikolog yang melakukan asessement sebelum dan sesudah instalasi desain lighting baru. Berdasarkan hasil penelitian perubahan desain pencahayaan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan fisik secara motorik halus, motorik kasar dan kemampuan kognitif secara memori. Lalu, reaksi natural dari anak terhadap skenario pencahayaan menunjukkan anak-anak dapat berkumpul tanpa adanya intruksi verbal. Selain itu, peningkatan mood dan antusias anak-anak terhadap kegiatan belajar. Beberapa juga menunjukkan rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap ruang kelas.

Artificial Intelligence oleh Dennis T, Cyberport Ambassador Hong Kong

Artificial intillegent (AI) sudah bukan hal yang asing untuk jaman sekarang. Kita tidak bisa lepas dari AI dan hanya ada dua pilihan; beradaptasi (survive) atau dilindas olehnya. Jadi, seharusnya mulai dipikirkan bagaimana kita sebagai designer dapat memanfaatkan AI untuk menjadi lebih berpengetahuan dan bukan menggunakan AI untuk menjadi lebih malas.
Game challenge
Berkaitan dengan materi yang disampaikan bahwa yang tidak dimiliki oleh AI adalah ide. Peserta diberi game challenge berkelompok untuk mengasah kreatifitas dengan membuat scene dari tiga lampu.


Day 3
Siang – Cross discipline discussion
Daylighting as the black sheep in the heart of design.

Daylight dalam arsitektur oleh Faried Masduki dari Hadiprana Design Consultant. Daylight cenderung diabaikan dan menjadi kambing hitam dalam arsitektur karena beberapa alasan diantaranya: membawa panas, daylight sulit dikontrol, hanya diliat sebatas jendela, dan jarang dipopularkan oleh industri. Beliau bagaimana strategi desain arsitektur menerapkan daylight yang bukan hanya bermanfaat secara fungsional tetapi menambah fungsi estetika dengan tetap menjaga kenyamanan manusia di dalamnya.
Pertanyaan selanjutnya bagaimana mengkuantifikasi daylight? Penjelasan secara teknis dan fisis, apa yang sebenarnya terjadi dari sebuah model. Dalam hal ini daylight dalam metrik oleh Dr. Rizki Mangkuto Associate Profesor Teknik Fisika ITB menjelaskan bagaimana mengkuantifikasi daylight agar mendapatkan manfaat secara optimal dengan metode numerik (simulasi). Pembahasan meliputi pembahasan dasar pemodelan simulasi daylight, parameter daylight.
Light vs Capturing Light: The Dialog between lighting designer and visual artist. Tigor Lubis – Fotografer dan Firman Ichsan – Fotografer
Setelah menyelesaikan proyek lighting design. Gong terakhir berada ditangan fotografer, bagaimana menangkap cahaya dan bayangan serta memberikan dokumensi yang jujur. Pada diskusi ini kita akan mendengar dari sudut pandang fotografer.
Firman Ichsan menceritakan kesamaan dunia fotografi dengan lighting yaitu menempatkan hierarki yang tinggi dengan cahaya.
Tigor Lubis menyampaikan presentasi mengenai: Dimensi dalam rambatan cahaya – tentang cahaya, warna, dan hitam putih dalam fotografi. Beliau menjelaskan lebih menyukai hitam dan putih karena baginya seperti masuk di dimensi yang berbeda dan berkaitan tentang memori/kenangan.

Pameran fotografi
Bersamaan dengan coffebreak, peserta menikmati pameran fotografi hasil karya Tigor Lubis dan kurasi oleh Firman Ichsan.
Malam – Gala Dinner
Keynote Speech: Culture as Foundation of Lighting Design dari Tatsuya Iwai. CEO of Lumimedia Lab Japan

Tatsuya Iwai baru saja memenangkan IALD Award untuk project SIMOSE Museum Jepang. Beliau mempresentasikan pengetahuan, pemikiran dan disiplin designer Jepang dalam bekerja, sehingga membentuk identitas yang kuat. Beberapa proyek yang dipresentasikan antara lain: SIMOSE, MUFG Park/Library, IGARASHI TAKENOBU, The Heisei Chishinkan Wing of the Kyoto National Museum.

Ogoh-ogoh Artlight Performance
Pertunjukan Ogoh-ogoh dengan sentuhan lighting. Lighting berperan memberi pesan emosi dari cerita yang ditampilkan. Pertunjukan menggambarkan ego kita dalam industri lighting, ketika kita perlu menekan ego kita untuk berkolaborasi. Penampilan ini merupakan kerjasama antara lighting designer (menceritakan secara implisit) sedangkan video mapping dan musik (menceritakan secara eksplisit).
Penutup
Pengalaman selama empat hari di tempat yang sama dan membahas hal yang sama (lighting) membentuk library pengetahuan baru yang lebih membekas. Kita belajar bahwa dalam mendesain lighting kita perlu bekerja sama dengan baik dan paham dengan sudut pandang arsitek, scientist, produsen decorative light, lighting supplier, dan fotografer. Kita juga diajak mempersiapkan masa depan untuk memperkuat identitas desain orisinil yang berfokus pada kebutuhan manusia dan mempersiapkan menghadapi tantangan AI. Kreatifitas kita diasah melalui game dan workshop dengan waktu dan resource terbatas.
Di luar acara, kita dapat memanfaatkan luang untuk berkenalan dengan rekan-rekan di lighting industri dan mengamati desain lighting di venue. Enlightened Bali berkesan dan berbeda karena kita belajar deep dive ilmu yang dasar dan lintas displin, kemudian dilengkapi dengan hands-on experience.
Pengetahuan-pengetahuan ini menjadi koneksi baru di otak yang harapannya kelak dapat dibahas lagi di acara atau platform berbeda sehingga library pengetahuan tersebut menjadi lebih kuat dan lebih besar. Seperti apa yang ahli neurosains katakan “neurons that fire together wire together“.

Terima kasih untuk sponsor dan seluruh pihak yang bekerja sama untuk mewujudkan Enlightened Bali 2025. Sampai jumpa di Enlightened Bali tahun depan!











