Follow
Don't be left behind

Enter your email address to subscribe and receive notifications of new posts by email.

Kenapa Orang Lebih Sering untuk Memilih Tempat Duduk di Dekat Jendela?

Manfaat melihat pemandangan di luar

Berdasarkan pengamatan orang memilih duduk di dekat jendela , bahkan rela membayar mahal untuk sebuah view/pemandangan. Sebenarnya manfaat apa saja sih yang kita dapatkan dengan melihat pemandangan di luar? Yuk kita breakdown satu-satu:

Video credit to instagram didi_w88

Koneksi visual dengan alam

Kita sering mengincar untuk dapat melihat pemandangan alam melalui jendela, seperti: sawah, pepohonan, laut, dan langit. Sebenarnya yang terjadi, kita sedang mencari koneksi visual dengan alam. Koneksi visual dengan alam merupakan salah satu kriteria dari desain biofilik menurut Terrapin. Melihat pemandangan memberikan kita ketenangan dan dapat meredakan pikiran yang lelah karena cerebral cortex (bagian otak untuk fungsi kognitif) beristirahat dari memproses informasi.

Selain itu, melihat pemandangan yang jauh juga memberikan relaksasi untuk mata kita yang terlalu fokus melihat layar gadget. Mata kita tidak didesain untuk berfokus dengan jangka panjang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Lewis dan Vessel pada tahun 2012 (eye lens focal relaxation patterns) menyarankan untuk merilekskan otot mata setiap 20 menit dengan melihat pemandangan keluar dengan jarak lebih dari 20 kaki atau 6 meter selama 20 detik.

Photo by Danil Pahomchev on Unsplash

Informasi waktu dan cuaca

Ketika melihat jendela kita sering infomasi cuaca, apakah hari ini mendung, cerah, atau hujan. Informasi cuaca ternyata membantu orientasi sehingga kita tidak merasa terisolasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Philip Keep, Josephine James dan Michael Inman berjudul Windows in The Intensive Unit Therapy, pasien terapi memiliki orientasi memori yang lebih akurat dan halusinasi dan delusi berkurang di ruangan yang berjendela. Orientasi penting untuk kita tidak terisolasi ataupun merasa tersesat.

Akses mendapatkan informasi cuaca dan waktu melalui jendela. Photo © DLA Publication October 2019

Stimulasi sensori non-ritmik

Pengamatan perubahan warna awan. Photo Anggi Rafika

Pergerakan awan yang kita amati itu juga merupakan contoh stimulus non-ritmik. Ini juga merupakan kriteria desain biophilic menurut Terrapin. Ketika kita di alam di sekeliling kita tidak benar-benar diam. Gerakan acak atau perubahan yang tidak terprediksi memberikan elemen kejutan, sesuatu yang menyegarkan, ataupun menenangkan. Pergerakan awan yang pelan tanpa kita sadari jika kita tidak amati dengan fokus (subliminal changes) memberikan efek mindful ketika kita mengamatinya.

Mind-wandering

Dalam perjalanan yang jauh di kereta, pesawat, dan di bus kita sering melamun, mengingat kilas balik apa yang terjadi di masa lalu dan berkontemplasi apa yang kita akan bayangkan ataupun kita inginkan di masa depan. Hal ini bukan hal yang sia-sia lho!

Tenyata dari penelitian Lisa Heshong yang dipresentasikan di Velux Daylight Symposium 2025 mengenai visual delight – mind wandering. Melamun itu diproses di Default Mode Network (DMN) diketahui melalui fMRI brain scans di tahun 2021. DMN saat ini sebagai pusat dari self-awareness di mana kita mengetahui autobiografi kita. Ketika kita melamun, kita memiliki memori yang lebih besar, konsolidasi memori jangka panjang, perencanaan untuk masa depan, dan kemampuan kreatif memecahkan masalah.

Photo by Josh Hild on Unsplash

Jadi, kalau untuk mendapatkan window seat. Itu adalah hal yang wajar karena memang berdampak positif bagi kita secara psikologis. Mau tahu penjelasan ilmiah mengenai hal-hal yang familiar di keseharian kita, stay tuned on Luminapedia!

Total
0
Shares
Previous Article

Bagaimana Lighting Memberikan Ketenangan di Tengah Keramaian Kota?

Next Article

Jangan Lupa Catat Lighting Events 2026

Related Posts
Total
0
Share