Follow
Don't be left behind

Enter your email address to subscribe and receive notifications of new posts by email.

Belajar lighting design dari 0

Memahami pengertian, teori dasar, kualitas, kontras dan distribusi cahaya

Kita sering mengunjungi tempat seperti cafe atau hotel dan berceletuk atau berkomentar “suasana/ambience-nya enak ya”. Tetapi tahukah luminerds, salah satu aspek yang membuat suasana yang nyaman itu adalah pencahayaan ruangannya/lighting. Yuk luminerds, kita belajar bareng-bareng lighting design dari dasar!

Pengertian Lighting Design

Lighting design atau desain pencahayaan/ desain tata cahaya adalah ilmu yang mempelajari bagaimana cahaya berinteraksi dengan ruang, obyek, dan manusia yang dirancang dengan menggabungkan antara seni dan engineering. Bidang ini memiliki cabang seperti lighting design panggung, pemotretan/studio.

Artikel kali ini khusus membahas lighting design pada bangunan(architectural lighting design). Bidang ini berkaitan erat dengan arsitektur, desain interior, dan pencahayaan dalam rangka menciptakan lingkungan buatan manusia (built enviroment) yang berkelanjutan dan menunjang kesehatan dan kesejahteraan penghuninya.

Perbedaan suasana sebelum dan sesudah commisioning lighting design. Photo © Abdi Ahsan

Kontras Cahaya

Pemahaman tentang kontras atau perbedaan terang menjadi dasar yang penting untuk merancang desain pencahayaan di suatu ruang. Kontras dapat menciptakan kedalaman (depth) dan bentuk (form) yang dapat mempengaruhi suasana atau emosi yang tercipta di dalam ruangan.

Kedalaman (depth) adalah jarak yang tercipta karena perbedaan gelap terang. Sementara itu, bentuk (form) menggambarkan obyek menjadi tiga dimensi dan lebih terdefinisi karena adanya kontras.

Teksture wall panel tidak terdefinisi. Photo © Anggi Rafika
Tekstur wall panel lebih terlihat tiga dimensi karena adanya kontras. Photo © Anggi Rafika

Distribusi Cahaya

Distribusi cahaya ada tiga jenis: diffuse, direct, dan glow.

  • Cahaya diffuse adalah cahaya yang tersebar merata dan melembutkan bayangan. Karakteristik cahaya ini lembut, bayangan halus dan memiliki kontras rendah. Biasanya cahaya diffuse didapatkan dari pencahayaan indirect/tidak langsung.
  • Cahaya direct adalah cahaya yang diarahkan langsung ke obyek atau bidang kerja. Karakteristik cahaya ini memiliki bayangan lebih tajam, kontras yang tinggi, dan cahaya langsung dari sumber.
  • Glow/binar adalah obyek yang bercahaya dan bersinar.

Kualitas cahaya

Sebagai catatan, lighting designer itu yang diperhatikan cahaya sehingga kualitas dari cahaya menjadi aspek yang penting. Ada beberapa parameter yang digunakan untuk menilai kualitas cahaya:

  • Intensitas Cahaya adalah besaran yang mengukur kuat cahaya yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya pada arah tertentu.
  • Nilai renderasi warna, kemampuan suatu sumber cahaya dalam menampilkan atau mereproduksi warna objek secara akurat dan alami, layaknya di bawah sinar matahari. Ada beberapa metri yang digunakan untuk mengukur renderasi warna yaitu CRI (Color Rendering Index) dan TM30. Baca lebih lanjut di sini.
  • Color temperatur (CCT) merupakan karakteristik warna dari suatu sumber cahaya yang diukur dalam satuan Kelvin.
  • Glare adalah sensasi visual yang disebabkan oleh cahaya yang terlalu terang dan tidak tekontrol di bidang pandang.
  • Spektrum cahaya merupakan komponen gelombang yang dapat dilihat oleh mata manusia, umumnya berkisar antara panjang gelombang 380 hingga 750 nanometer (nm) . Spektrum ini berpengaruh pada kesehatan karena komponen gelombang biru yang dapat meningkatkan tingkat kewaspadaan/alertness. Lebih lanjut akan dibahas di artikel ini.

Arah Datang Cahaya

Arah di mana cahaya itu jatuh mempengaruhi bayangan dan suasana ruang di dalamnya. Perlu dicatat arah datangnya cahaya juga perlu mempertimbangkan silau/glare.

  • arah dari atas/vertikal menciptakan bayangan lebih keras pada obyek.
  • arah dari bawah membawa karakter unnatural.
  • arah dari ketinggian level mata menciptakan kedekatan.
  • arah horizontal memberikan penerangan secara vertikal (vertical illumination)

Teori Desain Pencahayaan

Berdasarkan teori dari Richard Kelly memperkenalkan tiga layer cahaya yaitu:

  1. Ambience luminicense merupakan cahaya dasar dengan karakteristik cahaya tersebar merata dan seragam. Ambience light menjadi kunci pembentuk suasana ruang. Detail cahaya ditentukan dari kontras, pemilihan color temperatur/CCT, dan CRI.
  2. Focal glow yaitu cahaya terarah yang mendorong perhatian dan fokus pada obyek atau bidang kerja/aktivitas tertentu (misalnya meja, kursi, kompor, lukisan).
  3. Play of brilliance adalah kilauan cahaya memercikan ketertarikan dari mata dan membangkitkan emosi yang lebih dalam. Hal ini dapat ditandai dengan munculnya rasa antusias, rasa ingin tahu, semangat, menemukan kebijaksanaan.
Ambience luminicense
Focal glow
Play of brilliance

Pendekatan merancang desain pencahayaan

Cara pendekatan tiap lighting designer itu berbeda-beda, tergantung pada karakter desainernya.

  • Pendekatan fungsional yang menekankan kebutuhan pada fungsi ruangan.
  • Pendekatan estetis yang menekankan pada aspek visual dan artistik.
  • Pendekatan lingkungan yang memfokuskan pada dampak pada lingkungan dengan memilih desain yang efisiensi energi, cahaya alami.
  • Pendekatan psikologis yang menitik beratkan pada pengaruh cahaya terhadap emosi dan perilaku manusia.

Organisasi Profesi Lighting Designer

Himpunan Teknik Iluminasi Indonesia (HTII) sebuah organisasi profesi ahli di bidang pencahayaan/iluminasi yang berbasis pada keahlian, pendidikan, dan pengalaman. 

Light Talk  sebuah platform komunitas lighting di Indonesia untuk berbagi ilmu, pengalaman dan perjuangan dalam mengembangkan industri lighting di Indonesia.

Darimana Belajar Lighting Design

  • Mengambil pendidikan formal lighting design. Di Indonesia belum ada program studi khusus mengajarkan lighting design. Lighting design diajarkan pada mata kuliah program studi interior seperti di BINUS, La Salle. Selain itu, di Institute Teknologi Bandung (ITB) ada program studi teknik fisika yang khusus pencahayaan. Artikel terkait pendidikan di Indonesia bisa di baca di sini. Pendidikan master yang ada di luar negeri contohnya di Hoschule Wismar, KTH, Aalborg University.
  • Mengikuti kursus/course. Ada course online seperti. Course offline pernah diselenggarakan di BINUS dan VLUX Academy.
  • Mengikuti seminar atau webinar tentang lighting design. Salah satu program dari HTII ada HTII Goes to Campus yang memberikan seminar di kampus-kampus di Indonesia.
  • Membaca buku. Ada beberapa buku yang dapat dipelajari diantaranya buku dalam negeri berjudul Lux Sit (Luminous Journey of Lighting Design in Indonesia) karya award-winning lighting designer Indonesia, The Structure of Light: Richard Kelly and the Illumination of Modern Architecture (karya: Dietrich Neumann), Perception and Lighting as formgivers for Architecture karya William M.C. Lam.

Dimana bisa merasakan lighting?

Kita dapat merasakan lighting di semua tempat setiap saat. Hal ini bisa dilatih mulai sedikit demi sedikit dengan mencoba mengingat kaitan antara apa yg dirasakan dengan lighting yang ada, baik pencahayaan alami (dari matahari) maupun pencahayaan buatan.


Mau lebih dive-in belajar lighting design? Pantau terus artikel di luminapedia yak!

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Article

5 Hal Penting untuk Memahami Lighting Design dengan Tepat

Next Article

Kontras Cahaya: Bagaimana Menerjemahkan Emosi dalam Lighting?

Related Posts
Total
0
Share