Intip keseruan Enlightened Bali 2026 13-17 Agustus 2026
Enlightened Bali 2026 mengangkat konsep Pasar Malam. Ide tersebut diambil mengingat pasar malam merupakan acara di mana cahaya bertemu dengan permainan, budaya bertemu dengan perdagangan, dan festival menjadi sebuah ritual malam untuk masyarakat.
Tahun ini Enlightened Bali menggabungkan format seminar, workshop, expo, dan light installation menjadi satu pengalaman di satu tempat di Big Garden Corner, Sanur. Acara seminar dan workhop berlangsung di panggung utama (balai desa). Sementara, untuk mini expo dibuat dengan booth instalasi lighting dengan berbagai tema. Ada pabrik lampu dari Mlight dan toko lampu seperti booth CDN, Colors, Hikari, LELCO, HTII, Helvar, The Refraction (kerja sama antara Casambi, WAC, Ascendo Lighting, Luci, dan Glow Control) dan Class International. Kegiatan yang bervariasi membuat format Enlightened Bali 2026 lebih seru dan kaya!






Seminar dan Keynote Speech
Light As Infrastructure
Seminar dibuka dengan proposal yang menjadi tema movement yaitu Enligthtened Bali 2026: Light As Infrastructure. Kata infrastructure memiliki ciri: dipertimbangkan dan direncanakan dari awal, perencanaan lain dikembangkan dari sekitar infrastruktur ini, tidak terawasi saat menjalani fungsinya, bila fungsinya menurun atau gagal maka sistem yang ditopangnya akan ikut gagal.
Enlightened Bali mengajukan lighting sebagai elemen infrastruktur dalam ekosistem arsitektur. Ini diajukan melihat nilai lighting yang tinggi, karena perannya:
- Lighting menentukan materiality dan geometri
- Lighting mendefinisikan persepsi dan mempengaruhi psikologi
- Lighting mempengaruhi aspek physiology manusia
Seminar dan diskusi dilakukan secara multi-disiplin, di mana masing-masing ahli memaparkan pengalaman dalam bidangnya dan bagaimana lighting memberikan pengaruh. Kegiatan ini adalah langkah awal untuk menguji proposal yang ditawarkan Enlightened Bali 2026.
Seminar and Panel Discussion with the expert
- Dr. Florian Heinzelmann dari SHAU Architect mempresentasikan materi dengan judul Natural Daylight and Envelope Design for the Tropics. Dr. Florian menjelaskan tentang pentingnya daylight dan interaksi cahaya matahari dan permukaan dalam mendesain selubung bangunan. Materi diawali dengan pembahasan potret Uluru, Australia dalam berbagai musim yang menandakan seberapa kuat pengaruh daylight terhadap atmosfer yang ditampilkan. Lebih lanjut ada beberapa studi kasus yang dibahas seperti Kimbell Art Museum karya Loius Khan dan studi proyek dari SHAU Architect seperti, Microlibrary Selasar, Microlibrary Warak Kayu, Microlibaray Pringwulung, dan RUBIK. Tidak hanya memanfaatkan material natural seperti kayu dan bambu, desain bangunan memaksimalkan juga desain pasif yang mengoptimalkan kondisi iklim setempat.
- Karlyn Cerdena dari ARA Design (Interior Designer) menjelaskan bahwa pencahayaan memegang peran di bidang hospitality dalam tiga cara yaitu dalam proses development, lighting juga dapat mengaktifkan respon emosi dari ruang dan gambaran imajinasi dari tamu hotel, dan yang terakhir proses kurasi lighting. Kurasi perlu dilakukan karena pengunjung datang dari berbagai negara dan daerah sehingga perlu dilakukan pemilihan lighting yang akan diterapkan.
- Yusuke Hattori dari Ambiguous Light (Lighting Designer). Yusuke mempresentasikan “What We Illuminate, What We Leave Unlit” yang secara garis besar lighting merupakan cara untuk menampilkan nilai dan makna ruang dengan cara seleksi bagaian mana yang harus di highlight dan dibiarkan gelap. Yusuke mengungkapkan proses desainnya melalui contoh ulasan dari proyek chinese restaurant. Ada tiga tahap dalam proses desain yang dilakukan yaitu: a. Revealing material finish, b. revealing material in artwork, c. revealing material in spice. Studi kasus kedua, Yusuke bercerita tentang bagaimana dia mendesain rumah biksu di mana di dalam proyek tersebut merangkul gelap dalam proses desainnya, darkness as material.
- Paolo Randone dari MJB Hotelier (Hotel Operator) menjabarkan kesalahan-kesalahan umum lighting di hotel berdasarkan pengalaman nyata selama puluhan tahun. Kesalahan lighting sering ditemukan mulai dari lobby, restaurant, toilet, spa dan wellness, dapur, dan back-house dan office. Paolo menekankan bahwa lighting memegang peranan penting dalam revenue hotel, termasuk dalam keselamatan.
Keynote Speaker – Xander Cadisch
The Lost Atmosphere: How Light Shapes Human Experience in Hospitality
Xander memperkenalkan framework bernama Salutogenic. Kita mengenal patogenik sebagai sesuatu yang membawa penyakit. Nah salutogenic kebalikannya, sesuatu yang membawa kebaikan dan kesehatan. Konsep salutogenic menilai setiap material, sensori, dan kondisi temporal membantu penghuninya untuk mencapai kesehatan, koheren, dan pengalaman positif. Salutagenic lighting artinya konsep pencahayaan yang mendukung dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan.

Xander mengingatkan tentang sebenarnya apa yang ditawarkan dari bisnis hospitality? Hospitality menawarkan human state berupa pemulihan, memori, dan rasa kepemilikikan. Setiap bagian memiliki peran tersendiri. Restoran membangkitkan koneksi, kesenangan, dan energi untuk bersosial. Bar memberi ruang untuk membangun koneksi, kegembiraan, dan release. Spa memulikhan dari rasa lelah dan penat.
Lighting memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk atmosfer ruang. Dari 15 pola Terrapin Biophilic, 13 patterns itu berkaitan dengan pencahayaan. Artinya, lighting memegang porsi yang sangat besar dalam membentuk atmosfer ruang yang mempengaruhi kondisi fisiologi dan psikologi penghuninya. Pernyataan di atas menunjang point no. 2 (lighting mendefinisikan persepsi dan mempengaruhi psikologi) dan no.3 (lighting mempengaruhi aspek physiology manusia) dari peran lighting di ekosistem arsitektur.
Bring Back The Night Talk

Yusuke Hattori – Dark Sky
Dark sky merupakan organisasi nirlaba yang mendedikasikan diri untuk melawan polusi cahaya, melindungi lingkungan malam hari, dan melestarikan langit malam yang dipenuhi bintang untuk generasi sekarang dan masa depan. Yusuke menceritakan peran dan alasannya bergabung menjadi Dark Sky Advocate.
I Wayan Wardika – Bring Back the light
Kunang-kunang adalah indikator ekologi. Mereka hidup di lingkungan tanah lembab, air bersih tanpa polusi, dan malam yang gelap. Kalau mereka hilang itu tanda bahwa ekosistem tidak sehat.
Cahaya berkedip pada kunang-kunang berfungsi untuk komunikasi dan reproduksi. Ketika malam hari dipenuhi dengan over-lighting maka kontas hilang, sinyal kunang-kunang tidak terlihat sehingga menyebabkan reproduksi kunang-kunang turun signifikan.
Hal ini merupakan perkara serius karena telur kunang-kunang di dalam tanah selama dua tahun dan setelah menetas masa hidup kunang-kunang hanya 22 hari. Ketika sistem reproduksi yang bergantung pada kondisi lingkungan terdisrupsi maka kita sebagai bagian dari industri lighting bertanggung jawab dalam mendesain pencahayaan yang berkesadaran lingkungan.
Workshop Day
Workshop terbagi dalam dua sesi (sesi pagi dan sesi siang). Kegiatan ini dibuka dengan pemaparan dari Dr. Emrah Baki Ulas yang menggambarkan proses desain seperti kanvas kosong, kita bayangkan ruangan gelap dan perlahan muncul cahaya.
Peserta dibagi ke dalam tujuh kelompok di mana masing-masing kelompok memiliki latar belakang bervariasi dari arsitektur, interiror, lighting designer, lighting manufacture, dan lighting supplier. Studi kasus yang diberikan berupa hotel resort yang memiliki karakteristik: open plan and seamless flow, memiliki koneksi yang kuat dengan alam, pemandangan matahari terbenam, dan lanskap yang berbentuk lengkung simpatatik.

Ada beberapa catatan dari Dr. Emrah: bayangkan ruangan sebagai ruang yang gelap, desain dilakukan dengan cara craving darkness out. Pertama kita perlu membayangkan gembar seperti apa apa yang kita ingin munculkan dan visual task yang dibutuhkan. Kita perlu melakukan constructed dan deconstructed, mana yang perlu bangun dan yang perlu dikurangi.
Worskhop Presentation and Seminar

Presentasi dilakukan oleh enam group yang hadir di workshop Enlightened Bali 2026. Hasil pemaparan dari setiap group kemudian ditanggapi oleh panel juri (Abdi Ahsan dan Paolo Randone). Secara umum, output yang diharapkan dari workshop adalah sebuah desain yang teintegrasi antara arsitektur, interior, dan lighting design, jadi bukan hanya lighting saja. Poin kedua, ada beberapa kriteria yang ditawarkan desain mengutamakan manusianya baik untuk user maupun hotel operator.
Light and Music Seminar
Inna Hakiki mempresentasikan “Translating Musical Emotion into Living Light”, topik ini merupakan thesis penelitian dari studi masternya. Penelitian ini membahas bagaimana lighting membantu penyampaian emosi dalam pertunjukan musik. Inna menyatukan elemen musik dan elemen lighting agar menyampaikan emosi yang sama sehingga meningkatkan koneksi emosi pada penonton. Lebih jauh, hal ini dapat membantu teman-teman dengan hearing impaired untuk dapat menikmati pertunjukan musik.

Presentation Lighting Kungfu
Lighting Kungfu menawarkan cara baru dalam mendesign lighting, yaitu memulai dari perencanaan ambiance atau suasana yang mau dibangun oleh designer sebelum melakukan perencanaan teknis. Software Lighting Kungfu merupakan design tools dalam melakukan perencanaan yang mengutamakan pembentukan suasana. Dengan visualisasi lighting yang memiliki fitur intuitif yang mudah untuk pemula dan awam. Tidak hanya menghasilkan visualisasi yang halus, sebagai design tools software ini juga menggunakan data teknis IES dari manufaktur dan memberikan pengukuran kuantitatif yang akurat.

Mungkin banyak yang mengira, kungfu itu bela diri, tetapi sebenarnya kungfu artinya master atau ahli. Kehadiran Lighting Kungfu memberikan angin segar baik bagi luminerds, yang ingin mendapatkan visualisasi pencahayaan, bukan hanya renderasi tetapi juga nilai kuantitatif dari pencahayaan. Saat ini aplikasi ini masih dalam tahap development atau beta testing. Bagi yang tertarik, untuk info dan update bisa dilihat di website mereka: www.mindlabs.hk
Talk Mlight and Casambi
Mlight dan Casambi dengan topik “Light Innovation Over the Decade” bersama dan George Toth dan Mei-shan Ng yang dimoderatori oleh Elizabeth Toth. Pada diskusi panel ini bagaimana tantangan, perubahan, inovasi dalam mengembangkan produk. Pada sesi diskusi, ada pertanyaan menarik mengenai kompleksitas lighting control system dan bagaimana inovasi mengenai produk yang tidak hanya menekankan pada nilai CRI.

Last Day
Demo Lighting Kungfu
Lighting Kungfu mempresentasikan produk di mana bisa juga dapat dilihat melalui Virtual Reality (VR) sehingga peserta dapat melihat secara langsung dan memberikan gambaran tentang bagaiamana pemakaian aplikasi tersebut.
Presentation WAC and LUCI
WAC merupakan lighting manufacturer asal Amerika serikat, yang saat ini sudah memiliki pabrik di Thailand. WAC signature produk yang modular dan sealed sehingga melindungi dari debu. Lucy memiliki keunggulan produk yang sudah mempertimbangkan berbagai sertifikasi bangunan hijau yang mensyaratkan nilai wattage yang rendah.
Closing Performance
Di malam terakhir ada acara pengumuman lomba dan penyampaian kesan-pesan dari peserta dan penyelenggara. Acara ditutup dengan pertunjukan musik gamelan dan tarian yang berkolaborasi dengan lighting yang di direct oleh Inna Hakiki. Layer dinamis ini yang menyatukan antara pencahayaan musik.

Setelah mengikuti acara Enlightened Bali 2026, penulis menangkap kesamaan, di mana setiap pembicara memiliki “kacamata” lighting yang ketika itu bertujuan untuk kebaikan, maka pada akhirnya dipertemukan pada titik yang sama. Terima kasih untuk sponsor dan seluruh pihak yang bekerja sama untuk mewujudkan Enlightened Bali 2026. Sampai jumpa di Enlightened Bali 2027!!


